Kehadiran dari Good Lawyer akhirnya mampu memecah kebuntuan itu. Karya fiksi Indonesia yang selama ini didominasi tema-tema cinta, mampu disemarakkan dengan kumpulan cerpen yang bertemakan dunia hukum di Indonesia. Dari berbagai komentar di sampul belakangnya, nampak sekali pujian adalah sebual hal yang lumrah bagi kompilasi ini. Karena itulah, saya ingin memberikan kritik, yang bukan bertujuan untuk menjelek-jelekkan karya ini, melainkan karena keinginan agar karya-karya selanjutnya dapat lebih baik dan kalau bisa bertambah banyak.
Karena ini adalah kumpulan cerpen, maka saya sudah mengantisipasi agar siap-siap untuk mendapatkan kesan nanggung yang ditimbulkan. Bukan karena ceritanya buruk, hanya saja kebiasaan saya dalam membaca novel dan menonton serial TV, membuat saya harus mendapatkan elaborasi lebih jauh dan mendalam mengenai sebuah cerita. Dari 18 cerpen yang dimuat dalam kompilasi ini, satu-satunya karya yang membuat saya menjadi penasaran adalah cerpen berjudul “Sebatas Angan”. Cerpen ini mengangkat mengenai permasalahan dalam hukum adat Minang, khususnya mengenai uang jemputan dalam perkawinan. Kehadiran hukum adat itulah yang membuat saya tertarik, karena saya yakin bahwa cerita tersebut sedikit banyak pasti menambah wawasan bagi para pembacanya (tentu, dengan kekecewaan tidak terelaborasi lebih jauh lagi). Sementara, cerita-cerita lainnya tidak terlalu memorable, entah itu mirip dengan legal/courtroom drama series dari Amerika Serikat, ataupun too good to be true. Seperti salah satu cerpen yang berjudul “The Ball is Mine”, saya yakin bahwa cerita ini sangat-sangat terinspirasi dari serial Boston Legal. Saya adalah penonton setia Boston Legal yang kelima season-nya telah saya lah






Reviews
There are no reviews yet.